Beranda Advetorial Minyak Goreng Masih Langka, Ini Kata DPRD Lampung

Minyak Goreng Masih Langka, Ini Kata DPRD Lampung

147

Bandar Lampung (Suaratrans.com) -Kelangkaan minyak goreng di Provinsi Lampung hingga saat ini belum teratasi oleh pemerintah masih menjadi keluhan masyarakat.

 

Seperti Ati Rusyati, salah satu warga Kelurahan Labuhan Ratu, Kota Bandarlampung keluhkan pasokan harga minyak di wilayahnya.

 

Ia menjelaskan, selain langka harga minyak goreng pun naik 3 kali lipat, dari sebelumnya hanya Rp.12.500per liter kini mencapai Rp25 ribu per liternya.

 

“Susah nemuin minyak, apalagi mau yang harga murah,” akunya.

 

Keluhan yang sama disampaikan Yesi warga, Desa Pemanggilan, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

 

“Di Lotte mart ataupun Fitrinof jual minyak goreng, tapi stoknya sedikit. Jadi sering gak kebagian. Antrian panjang banget,” katanya, Selasa (22/2).

 

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, I Made Bagiasa mengatakan, sebenarnya meskipun belum maksimal, pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk menangani kelangkaan minyak goreng tersebut.

Baca Juga:  Musrenbang, Tanjung Bintang Diguyur Rp. 46 M

 

Bahkan, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi sudah memanggil sejumlah distributor minyak goreng untuk membicarakan agar masyarakat dipermudah mendapatkan pasokan bahan pokok tersebut.

 

“Gubernur Arinal sudah panggil distributor, salah satunya distributor minyak goreng di Lampung kan perusahaan Bumi Waras,” katanya.

 

Ia menegaskan, ketika ditemukan distributor melakukan melakukan hal-hal untuk melakukan penimbunan itu harus ditindak dengan tegas.

 

“Kalau ada yang menimbun itu harus ditindak tegas,” tegasnya.

 

Menurut Made Bagiasa, upaya pemerintah untuk merencanakan pembagian minyak goreng secara dor to dor itu adalah langkah yang tepat dibandingkan dengan operasi pasar murah.

Baca Juga:  PWI Tuba dan Baznas Berkolaborasi Berikan Bantuan Sosial

 

Karena, di masa pandemi Covid-19, ketika pemerintah menggelar operasi pasar murah maka kerumunan tentu akan menimbulkan kerumunan masyarakat.

 

“Terlebih lagi, pemerintah saat ini kembali menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 di wilayah Bandarlampung dan 3 kabupaten lainnya,” jelasnya.

 

Apakah upaya mengatasi minyak goreng langka secara dor to dor efektif jika dilakukan satu kali dalam sepekan?

 

Made Bagiasa menjelaskan, bisa saja operasi pasar secara dor to dor dilakukan setiap hari, untuk memastikan minyak dapat tersalurkan secara merata kepada masyarakat, khususnya di Bandarlampung.

 

“Bisa dilakukan dor to dor setiap hari, tapi kan di lihat lagi apakah SDM untuk membagikannya cukup atau tidak. Mungkin hal itu akan dibicarakan lagi terhadap pihak Disperindag,” pungkasnya