Beranda Daerah Lampung Novel Begum Karya Sastra Asal Mesuji Lampung, Masuk 12 Naskah Terbaik Indonesia

Novel Begum Karya Sastra Asal Mesuji Lampung, Masuk 12 Naskah Terbaik Indonesia

1620
Foto: istimewa

Suaratrans.com, MESUJI – “Kau benar-benar tak ingin kembali ke Arakan?, Aku sangat ingin, Tuan Juli. Tapi mereka tak akan menerima. Ayah memintaku pergi agar dapat menemukan kematian yang benar. Kematian yang seperti apa? Yang terkubur dengan layak, Tuan Juli. Bukan akibat kebiadaban atau peluru”. Cuplikan dialog bab akhir Novel karya Fajar Maeza.

Berkisah tentang pelarian seorang bocah Rohingya, dari Myanmar, yang hidup di barak pengungsian Aceh, Novela Begum mengusik sisi kemanusiaan siapa saja.

Dia terpisah dari keluarga, desanya hangus, semua orang mengungsi, diburu, terombang-ambing di lautan dan hanya sebagian kecil yang selamat karena keajaiban.

Baca Juga:  Winarti: Wartawan Atau Pers Adalah Pilar Demokrasi Dan Pembangunan

Dalam penulisan novela ini bermula, ketika penerbit Basabsi.co membuka peluang proposal bagi penulis-penulis Indonesia untuk diterbitkan pada 1-15 Ferbruari 2019.

Dalam rentang 15 hari itu, kurator penulisan novela Basabsi.co, Reza Nufa dalam akun facebook-nya menyatakan, menerima 1.800 naskah yang  kemudian dipilih menjadi 12 terbaik untuk diterbitkan. Salah satunya Begum, karya sastrawan asal Mesuji, Lampung, Fajar Maeza.

“Cerita yang ditawarkan kedua belas novela ini sangat menarik. Saya tidak sabar ingin melihat hasilnya,” ujar Reza dalam akun FB 26 Februari 2019.

Setelah mengalami proses design cover yang terbilang cepat, lima bulan pasca pengumuman, melalui akun FB-nya, Reza Nufa kembali mengabarkan perjalanan ke dua belas novela.

Baca Juga:  Kodim 0426/TB Olahraga Bersama Guna Menciptakan Kekompakan

“Buku-buku dengan cerita menyenangkna ini, akan terbit 3 judul per bulan, sejak September sampai Desember 2019,” terangnya.

Sinopsis novela Begum: Dusun Khwa Khae menjadi neraka. Sekelompok militer datang membantai etnis Rohingya lalu membakar pemukiman tanpa sisa. Lolos diselamatkan harimau, Begum kehilangan semua keluarga. Pertemuan dengan tentara bayaran korporasi untuk pengosongan Arakan, mengubah hidup bocah dua belas tahun menjadi pembunuh bengis. Dia melarikan diri dan terombang-ambing di lautan. Lalu dibuang ke lautan tanpa pembela. Nelayan Aceh menyelamatkannya dengan kondisi trauma akut tanpa harapan hidup.

Penulis: Kiriman Sastrawan Fajar Maeza / sabtu (3/8/2019)